Dialog Kepahlawanan Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan di Red Corner Cafe
Newskata. Com, Makassar – Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulawesi Selatan menggelar dialog kepahlawanan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional 2025. Mengusung tema “Kepahlawanan dan Rekonsiliasi Bangsa”, kegiatan ini berlangsung di Red Corner Cafe, Jalan Yusuf Dg. Ngawing, Makassar, Sabtu (15/11/2025).
Dialog ini menghadirkan empat narasumber dari kalangan ulama, akademisi, dan praktisi media yang memberikan perspektif ilmiah, spiritual, dan sosial kepada peserta. Para narasumber tersebut yakni:
- Wakil Ketua Dewan Penasihat PW GP Ansor Sulsel, Dr. Mahmud Suyuti,
- Pimpinan Pondok Pesantren MDIA Bontoala, AG. DR. KH. Abdul Muthalib Abdullah,
- Pakar Politik UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Firdaus Muhammad,
- Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Timur, A.M. Kambie.
Diskusi yang berlangsung khidmat ini dipandu oleh akademisi Dr. Suardi Mansing.
Dalam dialog tersebut, para narasumber turut menyinggung dinamika pengangkatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional, yang belakangan menjadi sorotan publik. Para pembicara menilai bahwa perdebatan ini mencerminkan kuatnya memori kolektif masyarakat terhadap perjalanan sejarah bangsa. Mereka menegaskan bahwa proses pemberian gelar pahlawan harus dilihat melalui perspektif sejarah yang komprehensif, termasuk kontribusi, kontroversi, serta dampak kebijakan pada masa pemerintahannya. Para peserta diingatkan bahwa rekonsiliasi nasional menuntut keberanian mengevaluasi sejarah secara objektif, bukan sekadar mengglorifikasi tokoh, tetapi menjadikannya pembelajaran bagi generasi mendatang.
Pada kesempatan yang sama, narasumber juga mengomentari keputusan pemerintah yang menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional tahun 2025 kepada sepuluh tokoh bangsa. Tokoh-tokoh tersebut adalah:
- K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – mantan Presiden RI dan pejuang pluralisme serta demokrasi.
- Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto – tokoh militer yang berperan dalam perjuangan bersenjata dan pembangunan nasional.
- Marsinah – aktivis buruh dan simbol perjuangan hak-hak pekerja.
- Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja – pakar hukum internasional dan arsitek diplomasi maritim Indonesia.
- Hajjah Rahmah El Yunusiyyah – pelopor pendidikan perempuan di Sumatera Barat.
- Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo – tokoh militer dalam masa peralihan sejarah Indonesia.
- Sultan Muhammad Salahuddin – pemimpin daerah yang berkontribusi dalam perjuangan dan pembangunan sosial.
- Syaikhona Muhammad Kholil – ulama karismatik yang berpengaruh dalam penguatan pendidikan pesantren.
- Tuan Rondahaim Saragih – tokoh adat dan pejuang identitas budaya Nusantara.
- Sultan Zainal Abidin Syah – tokoh kesultanan dengan kontribusi pada diplomasi dan persatuan daerah.
Para pembicara menilai bahwa pengangkatan tokoh-tokoh tersebut menunjukkan upaya negara untuk menghadirkan rekonsiliasi sejarah melalui pengakuan yang lebih inklusif terhadap kontribusi lintas bidang dan lintas daerah.
Ketua PW GP Ansor Sulsel, H. Rusdi Idrus, dalam sambutannya menegaskan bahwa semangat kepahlawanan harus dimaknai secara kontekstual dan relevan dengan tantangan zaman.
“Pahlawan adalah mereka yang telah berkorban dan berkontribusi besar bagi negara ini, dan semangat itu harus terus kita warisi,” ujarnya.
Adapun peserta yang hadir berasal dari berbagai organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan, khususnya badan otonom Nahdlatul Ulama seperti IPNU–IPPNU Sulsel, Fatayat NU Sulsel, Fatayat NU Makassar, GP Ansor Makassar, serta PMII Kota Makassar. Turut hadir berbagai organisasi kepemudaan lainnya yang memperkaya jalannya diskusi, di antaranya Gusdurian, Peradah Sulsel, DPD Gemabudhi Sulsel, DPD GAMKI, PMTS, serta komunitas Milenial.

