Khoirul-Amin-SH.-MH.-Ketua-Umum-Pimpinan-Pusat-Gerakan-Pemuda-Islam-Periode-2025-2028
Newskata.com-Jakarta — Suasana diplomasi bernuansa religius kembali menghangat di Madinah, Arab Saudi. Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP GPI), Khoirul Amin, SH., MH., memberikan apresiasi mendalam terhadap pertemuan Ketua MPR RI dengan Pimpinan Pengelola Urusan dan Administrasi Masjid Nabawi, Senin (24/11/2025). Menurutnya, pertemuan tersebut tidak hanya sekadar agenda kehormatan, melainkan langkah strategis yang memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan dunia Islam.
Khoirul Amin menegaskan bahwa pertemuan ini sarat dengan pesan diplomasi kebudayaan, soft power keagamaan, dan penegasan eksistensi Indonesia sebagai bangsa muslim terbesar di dunia.
“Pertemuan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi langkah politik kebudayaan yang cerdas dan penuh visi,” ujarnya dalam rilis yang diterima redaksi, Selasa (25/11/2025).
Dalam audiensi tersebut, Ahmad Muzani—yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina PP GPI—menyampaikan langsung kebutuhan strategis perlunya penambahan kajian Islam berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi. Langkah tersebut disebut sebagai terobosan penting, mengingat jumlah jemaah, mahasiswa, dan diaspora Indonesia di Madinah terus meningkat secara signifikan.
“Selama ini hanya ada satu kajian resmi berbahasa Indonesia. Padahal arus keilmuan dan pergerakan masyarakat Indonesia di Madinah sangat kuat dan membutuhkan ruang yang lebih besar,” jelas Amin.
Ia memuji langkah Muzani sebagai diplomasi keagamaan yang visioner dan berpihak pada kepentingan umat.
“Apa yang dilakukan oleh senior kami, Bapak Ahmad Muzani, adalah bentuk diplomasi keagamaan yang visioner,” tegasnya.
“Beliau tidak hanya membawa aspirasi umat, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai negara muslim terbesar yang memiliki kontribusi strategis dalam percaturan dunia Islam.”
Menurut Ketum PP GPI itu, usulan penambahan kajian berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi bukan sekadar urusan teknis, melainkan langkah politis yang elegan. Ia melihat gagasan itu sebagai bagian dari pemberdayaan umat, penguatan kapasitas keagamaan, dan perluasan representasi Indonesia di pusat peradaban Islam.
“Ini bukan sekadar soal penambahan kajian, tetapi bagian dari upaya menegaskan eksistensi intelektual dan spiritual Indonesia di forum internasional,” lanjutnya.
PP GPI, kata Khoirul Amin, melihat langkah tersebut sepenuhnya sejalan dengan agenda kebangsaan, terutama dalam memperkuat diplomasi kultural dan keislaman Indonesia di level global. Ia juga menilai bahwa tindakan progresif Muzani menunjukkan kepemimpinan yang responsif dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang umat Islam Indonesia.
“Beliau menunjukkan bahwa politik kebangsaan tidak boleh berhenti pada ruang-ruang formal kekuasaan, tetapi harus hadir dalam arena internasional yang menyangkut kepentingan umat dan masa depan generasi Indonesia di pusat-pusat ilmu dunia Islam.”
Pertemuan di Madinah itu pun dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Indonesia terus memperluas pengaruh globalnya melalui pendekatan soft power berbasis nilai Islam moderat, inklusif, dan membawa kemaslahatan.
Khoirul Amin berharap pemerintah serta lembaga-lembaga terkait dapat menindaklanjuti langkah strategis ini.
“Kami berharap pemerintah dan lembaga terkait dapat menindaklanjuti langkah tersebut, sehingga Indonesia semakin diakui sebagai aktor penting dalam jejaring keilmuan global, khususnya di Tanah Suci,” pungkasnya.
Berita ini menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia tidak lagi terbatas pada forum politik formal, melainkan merambah langsung ke pusat spiritual dunia Islam — sebuah langkah yang dinilai akan memperkuat posisi strategis Indonesia di masa mendatang.

