Newskata.com- Makassar — Langit malam Kota Makassar terasa lebih tegang dari biasanya. Kamis, 28 November 2025, lantai ballroom Hotel MaxOne dipenuhi energi politik kepemudaan yang mendidih. Para ketua organisasi kepemudaan, unsur Cipayung Plus, dan perwakilan DPD II KNPI dari kabupaten/kota di seluruh Sulawesi Selatan hadir dalam satu forum besar: Silaturahmi Organisasi Pemuda bersama kandidat Ketua DPD I KNPI Sulawesi Selatan, Vonny Ameliani.
Ini bukan sekadar pertemuan. Ini tanda awal perubahan.
Dan malam itu, satu nama menggema dengan mantap: Vonny.
Malam Konsolidasi, Malam Penegasan
Diskusi berjalan intens. Kalimat-kalimat tegas bergantian melintas, seolah setiap kata adalah anak panah arah masa depan.
Di tengah sesi, hadir figur senior politik Sulawesi Selatan, Nimatullah Erbe, yang kemudian membuat ruangan mendadak hening saat ia menyampaikan pesan keras namun penuh harapan:
“DNA KNPI itu perbedaan, bukan keseragaman. Tapi perbedaan bukan alasan untuk pecah bertahun-tahun. Kita sudah kenyang dualisme. Kita sudah lelah trilisme. Sudah cukup! Kali ini, jika pemuda ingin maju—maka aklamasi adalah jalan terbaik.”
Ruangan bergemuruh. Beberapa mengangguk cepat, yang lain tersenyum tipis dengan ekspresi penuh makna.
Dan kalimat berikutnya menjadi punchline politik malam itu:
“Jika bicara siapa yang paling serius membangun KNPI Sulawesi Selatan—maka jawabannya hanya satu: Vonny Ameliani.”
Vonny: Tenang, Tegas, dan Penuh Agenda Perubahan
Saat diberi ruang bicara, Vonny tidak tampil sebagai orator yang meledak-ledak. Ia berbicara dengan tempo terukur, namun setiap kalimatnya terasa seperti memaku harapan baru ke dinding sejarah KNPI Sulawesi Selatan.
Ia menyampaikan:
“Ini bukan soal siapa yang menang atau siapa yang kalah. Ini tentang mengembalikan martabat pemuda. KNPI sudah terlalu lama jadi simbol konflik, bukan wadah kolaborasi. Bila saya diberi mandat, maka KNPI Sulsel akan kembali menjadi rumah—bukan panggung ego, bukan alat politik sesaat, tapi rumah bersama.”
Tepuk tangan panjang memenuhi ruangan.
Konsolidasi Politik yang Mengarah ke Satu Nama
Dari pantauan dinamika forum, tampak jelas bahwa dukungan mengalir deras menuju Vonny. Bukan karena ia satu-satunya kandidat yang hadir—tetapi karena ia tampil dengan keseriusan, struktur visi, dan rekam jejak organisasi yang sulit dibantah.
Beberapa ketua OKP bahkan menyatakan terbuka:
“Sudah waktunya KNPI Sulsel dipimpin seseorang yang memahami gerakan, bukan hanya mengejar jabatan.”
Momentum Baru untuk KNPI Sulawesi Selatan
Silaturahmi di MaxOne bukan sekadar agenda formal.
Ia adalah uji atmosfer, ukuran kekuatan politik, dan penanda arah waktu.
Dan malam itu, satu kesimpulan mulai terbentuk:
Pemuda Sulawesi Selatan tidak ingin sejarah konflik KNPI diulang.
Pemuda Sulawesi Selatan menginginkan persatuan.
Dan persatuan itu—dalam banyak suara malam ini—mengarah pada satu nama: Vonny Ameliani.
Penutup: Menunggu Babak Final
Malam itu tidak berakhir dengan deklarasi resmi.
Namun semua yang hadir tahu: keputusan besar sudah terbentuk di udara.
Sejarah KNPI Sulsel mungkin akan mencatat:
Hotel MaxOne adalah titik balik.
Malam ketika organisasi pemuda kembali menemukan arah.
Dan malam ketika nama Vonny Ameliani tidak lagi sekadar kandidat—tetapi representasi harapan.
Musda tinggal hitungan waktu.
Sulsel menunggu.
Dan pemuda sudah bersiap menentukan masa depannya.

