Dokomentasi: Istimewa
Newskata.com-Makassar — Musyawarah Daerah (Musda) KNPI Sulawesi Selatan yang digelar sejak 8 hingga dini hari 9 Desember di Hotel Horison Makassar berubah menjadi panggung penuh tanda tanya, asumsi politik, dan aroma pertarungan internal yang sulit disembunyikan. Forum yang seharusnya menjadi ruang konsensus pemuda justru berkembang menjadi arena tekanan, intervensi, dan dinamika emosional yang tak terelakkan.
Bukan benturan fisik, bukan adu argumentasi terbuka—justru diam, gestur, dan manuver kecil yang berbicara paling keras.
Kericuhan yang Pecah Tanpa Benturan
Ketegangan mulai terasa sejak sidang memasuki fase penentuan arah dukungan. Interupsi muncul beruntun, peserta mulai meninggalkan posisi duduk, dan panitia tampak kewalahan menghadapi gelombang ketidakpuasan prosedural.
Hingga memasuki dini hari, forum berubah menjadi ruang penuh suara yang saling bertumpukan—bukan lagi diskusi, tetapi tarikan pengaruh politik yang tidak tersampaikan secara eksplisit.
Tiba-tiba suasana memanas.
Beberapa peserta saling mendekat, beberapa menunjuk arah tertentu, sejumlah lainnya mencoba menengahi.
Tidak ada tinju.
Tidak ada kontak fisik.
Namun energinya cukup untuk menghentikan jalannya sidang.
Di balik semua itu, rumor mulai bergerak lebih cepat dari kronologi resmi.
Asumsi: Ada yang Tidak Lagi Netral
Di luar ruang sidang, narasi berkembang liar.
Ada yang menyebut kericuhan ini dipicu oleh tarik-menarik kepentingan politik internal salah satu partai besar. Ada pula yang membaca bahwa pergerakan dukungan mulai mengalami pergeseran drastis menjelang penetapan keputusan.
Nama-nama muncul dalam bisikan:
- Yasir Mahmud
- Fadel Muhammad Tauphan Ansar
- Saraswati
- Vonny Ameliani Suardi, Ketua Tidar Sulawesi Selatan
Namun menariknya:
tidak ada satu pun dari nama ini yang tampil bereaksi secara langsung di forum.
Semua menjadi simbol dalam narasi publik—bukan pelaku yang berbicara.
Gerindra vs Gerindra? Munculnya Narasi Dua Kutub
Di antara opini yang beredar, satu spekulasi paling keras muncul:
“Ini bukan lagi Musda KNPI. Ini faksi politik Gerindra yang bertarung di bawah meja.”
Apakah itu benar?
Belum ada bukti.
Namun pola dukungan, pengelompokan peserta, hingga raut wajah orang-orang yang terlibat seolah menegaskan apa yang tak pernah diucapkan.
Beberapa pihak menganggap KNPI Sulsel sedang menjadi “medan latihan” untuk kontestasi politik 2027–2029.
Yang lain mempercayai bahwa posisi Ketua KNPI bukan hanya simbol pemuda—melainkan kursi strategis lobbying politik masa depan.
Opini ini semakin menguat ketika muncul bisikan:
Yasir Mahmud siap berhadapan langsung dengan Saraswati dalam perebutan pucuk pimpinan.
Tidak ada konferensi pers.
Tidak ada pernyataan resmi.
Namun atmosfer forum seolah menjawab hal itu tanpa kata-kata.
Isu Aksi Pengeroyokan Tanpa Bukti Fisik
Di antara kekacauan forum, rumor mengenai Ketua Tidar Sulsel yang diduga “dikeroyok” secara situasional oleh dua poros dukungan—Fadel dan Yasir—mulai menyebar.
Kata “dikeroyok” dalam konteks ini bukan benturan fisik, tetapi tekanan forum, dinamika instruksi, dan akumulasi manuver politik yang membuat suasana semakin sulit dikendalikan.
Tidak ada laporan resmi.
Tidak ada rekaman jelas.
Semua hanya fragmen asumsi publik yang berkembang menjadi diskursus besar.
Pesan Sunyi: “Berikan Contoh dalam Bertarung”
Di tengah gelombang spekulasi, satu kalimat yang beredar di luar forum membuat publik bertanya-tanya:
“Kalau bertarung, bertarunglah dengan cara pemimpin — bukan dengan cara panik, tergesa, atau memaksa.”
Tidak jelas siapa pertama kali mengucapkannya.
Namun opini publik mulai mengaitkan kalimat itu dengan kejadian dini hari.
Dan justru karena tidak jelas sumbernya — kalimat itu menguat sebagai simbol kritik.
Penutup: Musda KNPI Sulsel Tidak Lagi Sekadar Proses Organisasi
Musda ini telah berubah menjadi:
barometer arah politik pemuda Sulawesi Selatan,
jendela friksi internal satu partai besar, dan
panggung awal bagi aktor-aktor politik muda yang tengah menguji strategi mereka.
Hasilnya belum final.
Yang justru sudah terjadi adalah satu hal:
Opini publik telah bergerak jauh lebih cepat daripada keputusan sidang.
Dan kini, seluruh Sulawesi Selatan menunggu babak selanjutnya—
bukan hanya untuk mengetahui siapa yang akan memimpin KNPI,
tetapi untuk melihat:
Siapa yang sesungguhnya sedang mengendalikan permainan.
Cerita ini belum berakhir.

