Salah satu Foto RW dipertemukan damai di kantor kecamatan mariso
Newskata.com-Makassar, 10 Desember 2025 — Pemilihan Ketua RW di Kecamatan Mariso yang sejatinya berlangsung sederhana berubah menjadi panggung ketegangan politik akar rumput. Di tiga kelurahan—Mariso, Lette, dan Panambungan—hasil draw antara para calon membuat proses pemilihan tertunda. Aroma rivalitas kian terasa ketika masing-masing kandidat mengklaim dukungan kuat di wilayahnya.
Situasi yang semula administratif berubah menjadi arena tarik menarik pengaruh, memaksa pemerintah kecamatan mengambil langkah cepat demi menjaga stabilitas sosial.
Mariso RW 07: Ketegangan Teredam Melalui Jalan Mufakat
Di Kelurahan Mariso, duel suara antara Djamaluddin dan Budiawan berakhir imbang. Ketegangan sempat terasa di lingkungan RW 07, di mana para pendukung mulai menunggu keputusan yang berpotensi memicu gesekan.
Namun melalui mediasi yang intens, keduanya memilih jalur musyawarah mufakat. Keputusan ini bukan hanya meredam kegelisahan warga, tetapi juga menunjukkan bahwa politik akar rumput masih menyisakan ruang untuk kompromi.
Lette RW 03: Legowo yang Menenangkan Suasana
Situasi lebih damai terlihat di RW 03 Kelurahan Lette. Hasil imbang antara Hj. Surgawati dan Hadi Satria dipertemukan dalam forum mediasi yang berjalan lebih sejuk.
Dengan mempertimbangkan stabilitas wilayah, Hadi Satria memilih mundur secara legowo, memberi jalan kepada Hj. Surgawati. Keputusan ini dipandang sebagai langkah matang dan menjadi contoh elegan bagaimana ego personal dapat dikalahkan demi kepentingan warga.
Panambungan RW 08: Panggung Ketegangan Terbesar, Camat Turun Tangan
Namun ketenangan itu tidak terjadi di RW 08 Kelurahan Panambungan. Persaingan antara Muhtar Dg. Lau dan Basir berlangsung keras. Masing-masing kubu datang dengan argumentasi, klaim dukungan, dan tekanan politik yang membuat mediasi tingkat kelurahan menemui jalan buntu.
Di titik inilah, aroma persaingan pengaruh di tingkat kelurahan terasa mengental. Pemilihan RW berubah menjadi simbol perebutan legitimasi sosial, bahkan disebut-sebut sebagai barometer kepemimpinan lokal.
Melihat eskalasi yang kian meningkat, Camat Mariso, Aswin Kertapati Harun, turun langsung memimpin mediasi. Ia didampingi kekuatan penuh unsur Tripika:
- Kapolsek Mariso Kompol Aris Sumarsono beserta jajaran
- Danramil Mariso Mayor Infanteri Mulyono bersama personel TNI
- Satpol PP BKO dan Satlinmas Kecamatan Mariso
Aparat keamanan disiagakan untuk mengantisipasi potensi gesekan horizontal.
Kedatangan Camat mengubah suasana. Dari yang semula panas dan penuh ketegangan, forum berubah menjadi ruang klarifikasi formal yang lebih tertib. Penegasan regulatif menjadi titik balik proses.
Camat Mariso Menjadi Titik Balik: “Aturan Adalah Kompas Kita”
Dalam forum yang juga dihadiri Lurah Panambungan, Aswin Kertapati Harun membuka seluruh berkas pencalonan kedua pihak sembari menegaskan kembali landasan hukum Perwali Nomor 20 Tahun 2025.
“Aturan sudah jelas. Kita sudah memberikan ruang musyawarah mufakat. Karena tidak ada titik temu, proses harus kembali pada Perwali 20/2025,” tegasnya.
Dengan nada yang tegas namun sejuk, ia juga mengingatkan kedua calon agar menahan emosi dan mengedepankan kepentingan warga.
“Saya berharap semua menjernihkan hati dan pikiran. Banyak opsi win-win solution yang bisa ditempuh jika ego kita turunkan bersama.”
Pernyataan itu seketika meredam suhu ruangan. Camat tampil sebagai penengah yang tidak hanya mengawal regulasi, tetapi juga stabilisator politik akar rumput.
Kapolsek & Danramil: Jaga Keamanan, Hindari Konflik Horizontal
Kapolsek Mariso, Kompol Aris Sumarsono, menekankan pentingnya menjaga ketertiban selama proses pemilihan, sementara Danramil Mariso Mayor Inf. Mulyono kembali mendorong penyelesaian melalui musyawarah demi mencegah potensi konflik di masyarakat.
Namun dengan dua calon tetap kukuh, jalur regulatif menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar.
Pemilihan Kondusif, Stabilitas Terjaga
Meski sempat memanas, seluruh proses pemilihan RW di Kecamatan Mariso akhirnya berjalan aman dan terkendali. Kolaborasi pemerintah kecamatan, aparat keamanan, serta unsur masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan ini.
Camat Mariso menutup proses dengan apresiasi:
“Terima kasih kepada semua pihak yang menjaga Mariso tetap kondusif. Kepentingan warga adalah prioritas kita bersama.”

