Timnas Indonesia U-22 gagal di SEA Games 2025. (ANTARA FOTO/NAY Baca artikel sepakbola, "Sumardji: Kegagalan Timnas U-22 Tanggung Jawab Saya!" selengkapnya https://sport.detik.com/sepakbola/liga-indonesia/d-8263569/sumardji-kegagalan-timnas-u-22-tanggung-jawab-saya. Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Newskata.com-Harapan publik sepak bola Indonesia kembali menggantung di udara. SEA Games 2025 berlalu tanpa kilau emas, menyisakan pertanyaan besar tentang arah dan denyut permainan tim nasional. Di tengah sorotan tajam publik, pengamat sepak bola nasional Erwin Fitriansyah menyebut performa Indonesia justru mengalami kemunduran yang terasa nyata.
Bukan soal hasil semata, melainkan jiwa permainan yang seolah memudar.
“Dulu, ketika masih ditangani Gerald Vanenburg, Indonesia bermain dengan keyakinan. Penguasaan bola jelas, ritme terbangun, dan pemain tahu apa yang harus dilakukan di lapangan,” ujar Erwin dalam keterangannya, Jumat.
Ia menegaskan, penurunan itu sulit disangkal lantaran komposisi pemain yang tampil di SEA Games 2025 nyaris tidak berubah. Namun yang berbeda adalah kreativitas yang tumpul, semangat juang yang naik-turun, serta skema permainan yang kehilangan konsistensi.
Di mata Erwin, problem utama tim nasional bukan sekadar siapa yang berdiri di pinggir lapangan, tetapi absennya bangunan kepelatihan yang utuh dan berkesinambungan. Ia menilai momentum seleksi pelatih yang kini dilakukan PSSI harus menjadi titik balik, bukan sekadar pergantian nama.
“Siapa pun pelatih yang dipilih—Giovanni van Bronckhorst atau John Herdman—harus diberi mandat membangun satu napas kepelatihan dari U-17 hingga timnas senior. Tidak boleh lagi terkotak-kotak,” tegasnya.
Menurut Erwin, tanpa kesatuan filosofi, setiap level tim nasional hanya akan berjalan sendiri-sendiri, memutus mata rantai pembinaan yang seharusnya saling menguatkan. Padahal, konsistensi strategi dan taktik adalah kunci agar Indonesia tidak terus berkutat di level regional.
Sementara Indonesia masih mencari bentuk, Vietnam justru melaju dengan langkah mantap. Di Stadion Nasional Rajamangala, Rabu (18/12), mereka menaklukkan Thailand 3-2 dan memastikan medali emas sepak bola SEA Games 2025. Gelar itu menjadi lanjutan supremasi Vietnam setelah sebelumnya juga mengangkat trofi Piala AFF 2025.
Dominasi Vietnam terasa semakin kontras bila menoleh ke final Piala AFF 2025. Kala itu, Indonesia di bawah asuhan Gerald Vanenburg tampil berani dan menekan, meski akhirnya harus menyerah tipis 0-1. Sebuah kekalahan yang menyakitkan, namun menyimpan harapan.
Kini, harapan itu kembali diuji. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia punya pemain berkualitas, melainkan apakah sepak bola nasional memiliki arah yang jelas dan berkelanjutan. Tanpa itu, mimpi bersaing di Asia—apalagi dunia—akan terus menjadi cerita yang tertunda.

