Newskata.com-Newskata.com, Makassar — Dinamika pasca Musyawarah Daerah (Musda) XVI KNPI Sulawesi Selatan rupanya belum sepenuhnya reda. Di tengah riuhnya suara-suara sumbang dan kritik yang terus bergema, Ketua terpilih DPD I KNPI Sulsel, Hj. Vonny Ameliani, memilih tampil tenang—sembari melempar sindiran politik yang menyentil lawan-lawannya.
Dalam forum dialog dan silaturahmi bersama Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) se-Sulawesi Selatan yang digelar di Golden Suki, Jalan Hasanuddin, Makassar, Selasa (23/12/2025), Vonny menegaskan bahwa konsolidasi lebih penting ketimbang sibuk menanggapi kegaduhan.
Pertemuan itu dihadiri perwakilan OKP tingkat provinsi serta pengurus DPD II KNPI kabupaten/kota. Secara kasat mata, ini adalah ajang silaturahmi. Namun secara politik, forum ini adalah pesan terbuka: kepemimpinan baru KNPI Sulsel tak gentar menghadapi tekanan.
“Sebelum menyusun struktur kepengurusan, kami memilih menyapa dan berdialog dengan teman-teman OKP dan DPD II KNPI. KNPI ini rumah besar, bukan arena teriak-teriak,” ujar Vonny.
Nada pidatonya kian mengeras ketika menyinggung pihak-pihak yang terus melancarkan kritik di ruang publik. Tanpa menyebut nama, Vonny melontarkan kalimat yang langsung mengundang tafsir politik.
“Kalau ada yang berkoar-koar terus, itu biasanya tanda panik. Orang yang tenang tidak perlu ribut ke mana-mana,” tegasnya, disambut riuh tepuk tangan peserta.
Pernyataan itu sontak dibaca sebagai sindiran telak bagi kelompok yang pasca Musda memilih menyerang legitimasi kepengurusan baru melalui opini dan manuver di luar forum organisasi. Vonny seolah ingin menegaskan: KNPI Sulsel tak akan terseret dalam politik gaduh, apalagi drama yang hanya menguras energi pemuda.
Tak hanya bicara stabilitas internal, Vonny juga menggulirkan agenda Family Gathering Kepemudaan pada awal 2026. Agenda ini disebut sebagai upaya merajut kembali simpul-simpul pemuda yang sempat retak akibat kompetisi Musda.
“Awal tahun 2026 kita akan kumpulkan semua OKP dan DPD II KNPI. Saatnya pemuda duduk bersama, bukan saling serang,” katanya.
Di sisi lain, Vonny membawa isu yang lebih substantif: kemandirian ekonomi pemuda. Ia menegaskan KNPI Sulsel tidak boleh terus bergantung pada simbol dan seremoni, melainkan harus melahirkan program nyata melalui pelatihan UMKM bagi OKP dan DPD II.
“Pemuda harus kuat secara ekonomi. Kalau organisasi pemuda lemah secara finansial, maka mudah ditarik ke sana-kemari oleh kepentingan,” ujarnya, sebuah pernyataan yang sekaligus menjadi kritik implisit terhadap praktik lama organisasi kepemudaan.
Vonny juga mengungkapkan bahwa Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, telah menyatakan komitmen mendukung program KNPI Sulsel. Dukungan itu memperkuat posisi KNPI sebagai mitra strategis pemerintah daerah—sekaligus menegaskan bahwa kepemimpinan baru telah mendapat restu politik yang signifikan.
“Alhamdulillah, Pak Gubernur menyatakan siap mendukung program KNPI Sulsel,” tutup Vonny.
Dialog ini menjadi sinyal bahwa KNPI Sulsel memasuki fase baru: lebih terbuka, lebih politis, dan tak lagi alergi pada kritik—selama kritik itu disampaikan dengan kepala dingin, bukan dengan kepanikan.
Kini publik menanti, apakah ketenangan yang ditampilkan Vonny benar-benar akan melahirkan kerja nyata, atau sekadar strategi meredam kegaduhan sebelum babak politik berikutnya dimulai.

