Newskata, Jakarta — Siti Nurbaya memilih untuk revolusionalkan gerakan dengan memanfaatkan momen Ramadan untuk menjejaring kekuatan. (9/3/2026)
“Jangan bilang perempuan tidak mampu menggerakkan peta politik dan keorganisasian bangsa—karena saya buktikan hari ini, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tapi bulan revolusi kolaborasi yang akan mengubah wajah kemasyarakatan kita.”
Kata-kata itu terlontar dengan nada yang tegas namun penuh kedalaman dari Siti Nurbaya, calon pengurus ISMI Jakarta periode 2026–2031, saat ditemui usai acara buka puasa bersama dan santunan yatim yang juga menjadi ajang silaturahmi strategis di tengah hiruk-pikuk dinamika nasional. Setiap suaranya menusuk langsung hati para hadirin dan wartawan yang ada—memaksa semua orang untuk mengangkat dagu dan melihat bahwa kekuatan perempuan dalam kepemimpinan bukan lagi omongan kosong.
“RAMADHAN ADALAH KEKONDISIAN YANG HARUS DIGERAKKAN UNTUK PERUBAHAN”
Duduk di sudut ruangan acara, mata Siti Nurbaya menyala ketika membahas makna Ramadhan di luar ritual keagamaan. Wawancara yang berlangsung sekitar 30 menit penuh dengan pemikiran tajam yang membuat setiap pertanyaan terasa kecil di hadapan visi yang dia bawa.
“Ramadhan yang hanya dipergunakan untuk beribadah sendirian itu belum cukup. Di era di mana negara menghadapi berbagai tantangan—dari kesenjangan ekonomi hingga keresahan sosial—bulan suci ini adalah kekondisian politik dan sosial yang harus kita gerakkan,” tegasnya dengan tatapan yang tak tergoyahkan.
Ia menambahkan, “Menahan lapar dan dahaga adalah simbol kecil. Yang lebih berat adalah menahan ego kepemimpinan, kepentingan kelompok, dan paradigma lama yang membuat organisasi hanya jadi tempat berkumpul, bukan tempat bergerak. Sinergi yang saya ajak bukan sekadar kerja sama permukaan—melainkan strategi politik yang akan menjadikan ISMI Jakarta sebagai mesin perubahan yang benar-benar menyentuh rakyat.”
Saat itu, seorang wartawan bertanya tentang risiko konflik dalam kolaborasi antar pengurus. Siti Nurbaya langsung menjawab dengan tegas: “Konflik itu wajar, tapi jangan biarkan itu menjadi alasan untuk terpecah. Di Ramadhan, kita diajarkan untuk memaafkan dan melihat makna yang lebih besar. Jika setiap pengurus hanya berpikir untuk jabatan, maka organisasi akan mati. Tapi jika kita berpikir untuk bangsa, maka setiap perbedaan akan jadi kekuatan.”
“DOMINASI LAKI-LAKI? SAYA BUKTIKAN ITU HANYA MITOS YANG PERLU DIHANCURKAN”
Tak bisa dipungkiri, dunia politik dan kepemimpinan organisasi di Indonesia masih didominasi oleh figur laki-laki. Namun Siti Nurbaya mengubah pandangan itu dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
“Saya tidak datang ke sini untuk menjadi ‘wakil perempuan’ atau sekadar memenuhi kuota. Saya datang karena saya punya kapasitas yang sama—bahkan lebih gigih dalam menjalankan tanggung jawab,” ujarnya dengan keyakinan yang membara, membuat seluruh ruangan terdiam dan terpukau.
Ia melanjutkan, “Kita sering dengar ‘perempuan baik mengurus rumah tangga’. Ya, benar! Tapi mengurus rumah tangga itu mengajarkan kita tentang manajemen sumber daya, negosiasi, dan membangun harmoni—keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam kepemimpinan politik dan organisasi. Saya tidak hanya bisa mengurus keluarga saya, tapi juga bisa menggerakkan ribuan orang di bawah naungan ISMI untuk berkontribusi bagi negeri.”
Saat itu, salah satu calon pengurus laki-laki yang ada di sampingnya mengakui, “Kami awalnya ragu dengan kepemimpinan perempuan di tingkat organisasi besar seperti ini. Tapi setelah mendengar pemikiran Bu Siti, kami tercerahkan—bahwa gender bukan faktor penentu kemampuan, melainkan visi dan kemauan untuk berkorban.”
VISI 2026–2031: “SINERGI YANG TIDAK HANYA BANGUN ORGANISASI, TAPI BANGUN NEGARA”
Dalam wawancara eksklusif ini, Siti Nurbaya mengungkapkan rencana kerja yang sangat konkret dan tajam untuk periode kepemimpinan yang akan datang.
“Sinergi yang saya impikan bukan hanya antar pengurus ISMI Jakarta, tapi juga dengan pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan lain, dan bahkan dengan kelompok muda yang sering dianggap ‘sulit diatur’,” jelasnya.
Ia merinci program utama yang akan dijalankan: “Kita akan fokus pada tiga hal—pendidikan untuk anak-anak yatim dan kurang mampu dengan kurikulum yang menggabungkan nilai agama dan keterampilan kerja, program ekonomi rakyat berbasis usaha mikro yang terintegrasi dengan pasar lokal, dan pemajuan nilai-nilai keislaman moderat yang akan menjadi benteng terhadap ekstremisme. Ini bukan hanya program organisasi, tapi kontribusi politik kita untuk menjaga keutuhan dan kemajuan bangsa.”
Di akhir wawancara, Siti Nurbaya menatap langsung kamera dengan pandangan yang penuh tekad: “Ramadhan telah mengajarkan kita bahwa kesatuan hati bisa mengatasi segala rintangan. Sekarang saatnya kita buktikan bahwa perempuan bisa memimpin perubahan, dan ISMI Jakarta akan jadi contohnya.
Siapkah Anda untuk menyaksikannya?”

