Ketua AMII Sulsel Aditya Djohar
Newskata-Makassar,26 November 2025 — Suhu politik kepemudaan di Sulawesi Selatan kian memanas. Pertarungan menuju Musyawarah Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Selatan bukan lagi sekadar adu pengaruh, melainkan menjadi gelanggang yang penuh tensi, manuver, dan kepentingan yang saling beradu. Di tengah hiruk-pikuk lobi politik itu, Angkatan Muda Islam Indonesia (AMII) Sulawesi Selatan tampil dengan suara paling tegas, menyampaikan pesan politik yang keras namun anggun, menggetarkan sekaligus memukau.
Tanah Sulawesi Selatan dikenal bukan hanya sebagai tanah beradat, tetapi tanah para pemberani, tanah yang memegang erat nilai-nilai kearifan lokal yang telah melewati zaman. Dari falsafah Bugis-Makassar, ritus adat Toraja, hingga tradisi luhur masyarakat Luwu dan Ajattappareng—daerah ini hidup dengan prinsip kehormatan, keberanian, dan persaudaraan yang tak lekang dimakan waktu. Nilai seperti sirik na pacce, mappasikarawa, mappesona ri dewata seuwae, hingga semangat ma’dika telah lama menjadi fondasi karakter masyarakatnya.
Dalam lanskap seperti itu, kontestasi KNPI semestinya membawa semangat besar, bukan sekadar transaksi politik kecil. Itulah yang ditegaskan oleh Aditya Djohar, Ketua AMII Sulsel, atau yang akrab disapa Adit. Dengan suara politik yang tajam, ia menyoroti arah gerak KNPI yang mulai melenceng dari nilai dasarnya.
“KNPI Sulsel bukan gelanggang untuk sekadar ‘isi tas’. Bukan pula tempat berburu tiket rekomendasi tanpa arah perjuangan. KNPI harus menjadi ladang gagasan, ruang integritas, dan rumah besar pemuda yang dihormati,” tegas Adit.
Ia mengingatkan bahwa tanah Sulawesi Selatan bukanlah tanah yang bisa dipimpin oleh mereka yang hadir tanpa visi. Ini adalah tanah para patturioloang, tanah yang disucikan oleh adat dan kehormatan, tempat di mana persaudaraan dijunjung, komitmen dihargai, dan janji politik harus sejalan dengan nilai budaya.
“Sipakatau, sipakaingat, sipakalebbi bukan sekadar slogan. Itu adalah jiwa Sulsel. Jika pemuda meninggalkan itu, maka hilanglah marwah kepemudaan yang dibangun oleh leluhur kita,” ujarnya.
Adit menyebut bahwa setiap jengkal tanah Sulawesi Selatan menyimpan nilai heroisme. Dari Butta Gowa yang sarat sejarah perang dan diplomasi, tanah Luwu yang penuh kearifan kerajaan tua, Ajattappareng yang menjadi simpul peradaban maritim, hingga pegunungan Toraja yang menjunjung adat kematian dan kehidupan dengan penuh penghormatan.
Di wilayah seperti itu, intrik dangkal dalam perebutan kekuasaan di KNPI adalah bentuk pengkhianatan terhadap warisan budaya.
Sebagai Ketua OKP yang mendapat amanah dari pemuda di tanah kelahirannya, Adit menegaskan bahwa AMII berdiri untuk menjaga moralitas politik dan memastikan bahwa KNPI tidak tergelincir dari nilai-nilai adat yang diwariskan turun-temurun.
“Pemuda Sulsel butuh pemimpin yang membawa arah, bukan sekadar ambisi. Butuh gagasan, bukan sekadar jaringan. Butuh integritas, bukan kepentingan sesaat,” lanjutnya dengan nada tegas.
Adit menekankan bahwa KNPI Sulsel sedang berada pada titik krusial. Pertarungan ini harusnya menjadi pertarungan ide, bukan pertarungan kepentingan. Silaturahmi harus jadi pondasi, bukan sekadar alat politik ketika dibutuhkan.
Ia menutup pernyataannya dengan pukulan moral yang kuat—sebuah seruan untuk kembali ke jati diri Sulawesi Selatan:
“Sulsel harus kembali kepada nilai utamanya. Sipakatau, sipakaingat, sipakalebbi adalah identitas kita. Dari nilai itu, pemuda berdiri, menjaga marwah tanah pemberani, dan membangun masa depan yang bermartabat.”
Dengan suara lantang AMII ini, pertarungan KNPI Sulsel memasuki babak baru—lebih tajam, lebih terarah, dan lebih sarat makna bagi masa depan pemuda di tanah adat yang kokoh ini.

