Newskata.com-Makassar — Suhu politik jelang pertarungan menuju kursi Ketua DPD KNPI Sulawesi Selatan semakin panas. Manuver organisasi kepemudaan semakin terbuka, strategi makin gamblang, dan arah dukungan mulai terpetakan. Di tengah dinamika tersebut, pergerakan Dewan Pimpinan Daerah FORTANAS Kota Makassar menjadi salah satu deklarasi yang paling mendapat sorotan.
Setelah melalui rapat pleno yang berjalan alot, tajam, dan penuh pertimbangan strategis serta kultural, organisasi ini akhirnya resmi merekomendasikan satu nama kepada pengurus wilayah sebagai kandidat yang dianggap paling layak diperjuangkan: Fadel Muhammad Tauphan Ansar — politisi muda sekaligus pengusaha yang dinilai memiliki kapasitas, jejaring, serta identitas kedaerahan yang kuat.
Sekretaris DPD FORTANAS Kota Makassar, Hari Satrian, tampil sebagai suara resmi pleno tersebut. Dengan gestur tegas dan intonasi tanpa kompromi, ia menegaskan bahwa keputusan ini bukan sekadar hasil rapat organisasi, melainkan pernyataan sikap pemuda Sulawesi Selatan.
“Kami sudah melalui proses dan dinamika organisasi yang tidak sederhana. Rapat pleno ini bukan hanya formalitas, tetapi penilaian terhadap siapa yang paling pantas dan paling memahami Sulawesi Selatan — dan nama itu adalah Fadel.”
Hari menekankan bahwa dukungan ini lahir dari gabungan penilaian terhadap kapasitas, rekam jejak, serta kedekatan kandidat dengan identitas Sulawesi Selatan.
Ia lalu menyampaikan pernyataan yang menjadi sorotan dalam ruang politik KNPI:
“Kami ingin dipimpin oleh orang asli Sulawesi Selatan. Kami tidak ingin KNPI Sulsel dikendalikan oleh mereka yang tidak mengerti teritorial, budaya, adat istiadat, dan marwah daerah ini.”
Nada suaranya semakin menegas ketika berbicara soal identitas dan martabat daerah.
“Sulawesi Selatan bukan laboratorium politik. Ini tanah beradat, tanah yang dijaga oleh nilai, harga diri, dan kearifan lokal. KNPI Sulsel harus dipimpin oleh anak daerah yang paham denyut sosial, karakter suku, dan tradisi yang hidup di sini — bukan oleh figur yang hanya datang untuk ambisi.”
Meski demikian, Hari memastikan bahwa sikap organisasi tetap berada dalam koridor struktur FORTANAS.
“Kami hanya mampu merekomendasikan nama. Keputusan final sepenuhnya berada di tangan Dewan Pimpinan Wilayah FORTANAS. Tetapi satu hal harus dicatat: suara Makassar bukan suara biasa — ini poros utama.”
Deklarasi ini menjadi salah satu titik penting dalam peta pertarungan KNPI Sulsel. Bukan hanya soal dukungan politik, tetapi juga sinyal kuat bahwa pemuda Sulawesi Selatan sedang bergerak menjaga marwah identitas regionalnya.
Pertarungan belum selesai. Panggung belum final.
Namun hari ini, arah mulai terbaca — dan Sulawesi Selatan perlahan tetapi pasti sedang memilih pemimpin yang bukan sekadar memiliki nama, tetapi seseorang yang punya darah, sejarah, dan keterikatan dengan tanah ini.

