Newskata.com-Makassar — Koordinator Wilayah VIII Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Muh. Vicky, menanggapi keras pernyataan yang disampaikan oleh Yongres terkait aturan di Sekolah Dian Harapan (SDH) Makassar.
Menurut Vicky, pernyataan tersebut tidak tepat dan tidak mempertimbangkan karakteristik lembaga pendidikan swasta yang memiliki aturan internal, identitas, serta nilai lembaga yang wajib dihormati oleh setiap peserta didik maupun orang tua yang memilih bersekolah di dalamnya.
“Aturan sekolah swasta dibuat berdasarkan visi pendidikan yang sudah jelas. Ketika seseorang mendaftarkan diri, itu berarti ia menyetujui aturan yang berlaku sejak awal,” tegasnya.
Vicky menilai langkah menyerang aturan sekolah yang sejak awal transparan merupakan bentuk ketidakkonsistenan dan tidak berdasar.
“Tidak ada lembaga pendidikan yang memaksa siapa pun untuk bergabung. Jika tidak setuju dengan aturan yang ada, memilih sekolah lain adalah pilihan yang paling rasional,” ujarnya.
GMKI Wilayah VIII, kata Vicky, memandang bahwa kritik yang diarahkan hanya kepada SDH tanpa melihat konteks aturan di sekolah lain merupakan sikap yang tidak adil dan dapat memicu konflik.
“Tindakan ini tidak mencerminkan semangat toleransi. Kita harus bersikap objektif dan tetap menjaga keberagaman yang selama ini berjalan baik,” tambahnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa keberagaman sistem pendidikan di Indonesia adalah bagian dari kekayaan bangsa yang harus dihargai.
“Kami mengajak semua pihak untuk memahami bahwa setiap sekolah memiliki dasar hukum dan aturan yang sah. Menghormati aturan tersebut adalah bentuk kedewasaan dalam hidup berbangsa,” ujar Vicky.
Di akhir pernyataannya, Vicky meminta publik tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi.
“GMKI Wilayah VIII berdiri tegas menjaga kerukunan. Kritik boleh, tetapi jangan sampai merusak tatanan toleransi yang telah kita bangun bersama,” tutupnya.

