Newskata.com-Makassar-Musyawarah Daerah XVI KNPI Sulawesi Selatan di Hotel Horison, yang berlangsung dari dini hari 8–10 Desember 2025, tidak hanya menjadi saksi lahirnya Ketua KNPI baru — tetapi juga menjadi panggung pembuktian siapa yang benar-benar membawa legalitas dan siapa yang hanya membawa cerita.
Di tengah dinamika politik pemuda, satu fakta mencuat dan mengguncang ruang sidang: AMII yang sah di Sulawesi Selatan hanya satu — yang dipimpin Aditya Djohar.
Ikut dari Awal hingga Akhir: Bukan Penonton, Tapi Peserta Sah
AMII di bawah kepemimpinan Aditya Djohar, datang bukan sebagai tamu, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai OKP resmi yang memiliki Suara Penuh, legalitas lengkap:
- SK Kepengurusan
- Akta Notaris
- Legalitas Kemenkumham
- AD/ART
- Nomor Induk Organisasi
- Struktur resmi DPP → DPW→DPD
Seluruh berkas telah diverifikasi panitia dan diterima tanpa keberatan.
Dengan format administrasi yang tak terbantahkan, AMII hadir mengikuti seluruh proses hingga tahap krusial pemilihan.
Saat Penentuan: Satu Kandidat Melaju, Satu Kandidat Tersandung Legalitas
Di saat proses semakin mengerucut, dua nama mengisi narasi perebutan kursi Ketua KNPI Sulsel:
- Vonny Amelia Suardi
- Fadel Muhammad Tauphan Ansar
Namun sebelum pemungutan suara mengarah ke pertarungan terbuka, satu fase verifikasi dokumen menjadi titik balik.
Fadel gagal memenuhi syarat administratif.
Rekomendasi organisasi yang ia bawa — salah satunya mengatasnamakan AMII versi lain — ternyata tidak memiliki legal standing.
Saksi mata menyebut suasana itu senyap beberapa detik — seperti ruang menyadari bahwa politik bukan hanya soal dukungan, tetapi soal legalitas.
Kubu Tanpa Legalitas: Retorika Tanpa Dokumen
Ketika panitia meminta dokumen pendukung:
Tidak ada akta
Tidak ada Kemenkumham
Tidak ada AD/ART resmi
Tidak ada pengesahan pusat
Yang ada hanyalah argumentasi personal, nostalgia struktural, dan kisah masa lalu yang tak dapat dibuktikan.
Satu kalimat dari peserta mengalir lirih namun menusuk:
“Organisasi bukan dibangun dari cerita, tapi dari dokumen.”
Dan sejak saat itu, arah Musda berubah total.
Vonny Amelia Suardi Terpilih Aklamasi — Karena Lawan Gugur di Meja Administrasi
Dengan tidak lolosnya Fadel dalam verifikasi, forum tidak lagi memerlukan adu suara.
Maka diputuskan:
🔹 Vonny Amelia Suardi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua KNPI Sulsel yang baru.
Bukan karena tidak ada lawan.
Tetapi karena lawan tidak memenuhi standar legal formal organisasi.
Kesimpulan yang Tidak Dibaca Mikrofon, Tapi Dibaca Sejarah
Musda ini mengajarkan satu hal yang jarang terucap namun kini terbukti:
Politik pemuda bukan lagi soal siapa paling keras bicara.
Bukan soal siapa paling lama berfoto di forum.
Bukan soal siapa paling banyak mengaku.
Tetapi soal siapa yang mampu menunjukkan legalitas, struktur, dan administrasi yang sah.
Dan dalam Musda XVI KNPI Sulsel, fakta itu menjadi garis pemisah:
| AMII ADITYA DJOHAR | AMII Versi Lain |
|---|---|
| Legal Kemenkumham | Tidak ada |
| Dokumen lengkap | Tidak ada |
| Terverifikasi panitia dan DPP KNPI | Ditolak |
| Peserta sah Musda | Hanya klaim dan narasi |
Penutup: Babak Baru Dimulai
Vonny kini menjabat sebagai Ketua KNPI Sulsel.
Aditya Djohar tercatat sebagai pimpinan organisasi resmi yang ikut menentukan arah Musda.
Dan nama Fadel?
Ia kini masuk dalam catatan Musda bukan sebagai kandidat — tetapi sebagai contoh bahwa:
Dalam organisasi modern, legalitas lebih keras dari mikrofon, lebih tegas dari orasi, dan lebih telak dari klaim.
Musda selesai.
Tapi kisah ini baru mencatat prolognya.
Karena di Sulsel, politik pemuda tidak pernah berjalan tanpa drama

