Newskata.com-Makassar-Di tengah riuh konflik dan perebutan legitimasi KNPI Sulawesi Selatan, ada satu fakta yang jarang disorot: organisasi ini masih berjalan bukan karena gemerlap panggung politik, melainkan karena kerja sunyi yang terus dijaga dari balik sekretariat.
Namanya Azir Maulana.
Usianya 63 tahun.
Selama 25 tahun, ia mengabdikan hidupnya sebagai staf sekretariat DPD KNPI Sulsel—tanpa jabatan, tanpa sorotan, tanpa klaim.
Setiap hari Azir masuk kantor sejak pukul 08.00 hingga 16.00. Saat pekerjaan mendesak datang, ia kerap bertahan hingga pukul 12 malam. Arsip dijaga, surat diproses, administrasi dirawat—pekerjaan dasar yang jarang terlihat, namun menentukan apakah organisasi masih hidup atau sekadar tinggal nama.
Di saat dinamika elite pemuda bergerak cepat di level klaim dan panggung, Azir bertahan di level fungsi. Ia tidak membawa slogan perubahan, tetapi memastikan organisasi tidak kehilangan pijakan paling dasarnya.
KNPI Sulsel hari ini masih bernapas karena ada orang-orang yang memilih setia pada kerja, bukan pada sorak-sorai. Dan dari sekretariat yang sunyi itu, kita diingatkan bahwa keberlangsungan organisasi sering kali ditentukan oleh mereka yang tak pernah berdiri di podium.
Azir Maulana bukan simbol kekuasaan.
Ia adalah simbol keteguhan.
Dan selama kerja-kerja sunyi seperti itu masih dijaga, KNPI Sulawesi Selatan—apa pun dinamika dan versinya—belum sepenuhnya kehilangan arah dan makna.

